PJelajah Pulau Bojo
Homestay lokal & kuliner seafood khas nelayan Pulau Bojo

Menginap di Rumah Warga Desa Duru: Seafood Nelayan dan Keramahan Pulau Bojo yang Belum Banyak Diketahui

Pulau Bojo di Desa Duru, Nias Selatan, menyimpan homestay warga dan seafood nelayan yang jarang tersentuh wisatawan. Simak cerita dan panduannya.

Menginap di Rumah Warga Desa Duru: Seafood Nelayan dan Keramahan Pulau Bojo yang Belum Banyak Diketahui

Ringkasan Cepat

  • Pulau Bojo berada di ujung selatan Kepulauan Batu, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara.
  • Pulau ini masuk wilayah Desa Duru, Kecamatan Hibala, dan berbatasan dengan Selat Siberut di selatan.
  • Akses menuju Pulau Bojo umumnya lewat kapal dari pelabuhan di Nias Selatan dengan jadwal terbatas.
  • Homestay berupa rumah warga menjadi pilihan utama karena belum ada hotel atau resor besar.
  • Hidangan sehari-hari warga berbasis hasil laut: ikan segar, cumi, dan olahan kelapa.

Menepi di Ujung Selatan Kepulauan Batu

Perjalanan ke Pulau Bojo tidak dimulai dari dermaga besar. Dari Nias Selatan, kapal menuju Kepulauan Batu melaju beberapa jam, melewati garis pantai yang jarang dihuni. Pulau Bojo sendiri berada di ujung selatan gugusan itu, berhadapan langsung dengan Selat Siberut. Di seberang selat, daratan Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, hanya tampak sebagai bayangan biru saat cuaca cerah.

Secara administratif, Pulau Bojo masuk wilayah Desa Duru, Kecamatan Hibala, Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Tidak ada bandara, tidak ada hotel berbintang. Yang ada adalah rumah-rumah warga yang berdiri di antara pohon kelapa, dan laut yang menjadi halaman depan sekaligus dapur mereka. Bagi wisatawan yang terbiasa dengan itinerari padat, ritme di sini terasa asing: waktu diukur dari pasang surut, bukan dari jam.

Homestay Rumah Warga: Keramahan yang Tidak Dibungkus Prosedur

Menginap di Desa Duru berarti menumpang di rumah keluarga nelayan. Tidak ada lobi, tidak ada resepsionis. Tamu biasanya diterima langsung oleh pemilik rumah, sering kali setelah diperkenalkan oleh warga lain atau tokoh desa. Kamar sederhana, kasur bersprei bersih, dan air tawar yang disimpan dalam tandon karena sumber air di pulau kecil terbatas.

Listrik menyala pada jam-jam tertentu, mengikuti pasokan yang tersedia. Sinyal telepon seluler muncul dan hilang tergantung posisi dan cuaca. Justru di situ daya tariknya: tamu diajak ikut ritme rumah, membantu menyiapkan makan malam, atau duduk di beranda sambil mendengar cerita soal musim ikan dan cuaca yang menentukan hari melaut.

Harga menginap umumnya relatif terjangkau dan sering dihitung per hari termasuk makan. Karena belum ada platform pemesanan resmi, pemesanan biasanya lewat perantara di Nias Selatan atau langsung ke keluarga yang bersedia menerima tamu. Bawa uang tunai secukupnya, karena tidak ada ATM di pulau.

Seafood Nelayan: Ikan Segar dari Perahu ke Piring

Dapur di Desa Duru tidak mengenal menu tertulis. Yang tersedia adalah apa yang baru saja dibawa pulang dari laut. Ikan kerapu, kakap, tenggiri, cumi, dan kadang lobster kecil menjadi bahan utama. Cara masaknya sederhana: dibakar di atas arang, digoreng kering, atau dimasak kuah kuning dengan kunyit dan cabai yang ditanam di pekarangan.

Beberapa rumah memasak ikan dengan santan kelapa yang diparut sendiri, menghasilkan kuah gurih yang cocok disantap dengan nasi hangat. Ada juga olahan ikan asin dan ikan kering yang dibuat warga untuk bertahan saat cuaca tidak memungkinkan melaut. Sajian ini bukan hidangan restoran, melainkan makanan rumah tangga yang disiapkan untuk keluarga dan tamu secara bersamaan.

Waktu makan mengikuti jadwal nelayan. Sarapan bisa pukul enam pagi sebelum perahu berangkat, makan malam setelah matahari tenggelam dan perahu kembali. Tamu yang ingin ikut melaut biasanya diizinkan, dengan catatan mengikuti aturan keselamatan dan membawa pelampung sendiri jika ada.

Praktik Berkunjung dan Etika di Pulau Kecil

Pulau Bojo bukan destinasi wisata massal, dan itu perlu dipahami sebelum datang. Bawa obat pribadi, senter, pelindung matahari, dan uang tunai. Konsumsi air tawar secukupnya karena pasokan terbatas. Buang sampah pada tempatnya atau bawa kembali ke daratan besar, karena pengelolaan sampah di pulau kecil sangat terbatas.

Hormati adat dan kebiasaan warga Desa Duru. Minta izin sebelum memotret orang, rumah, atau aktivitas ibadah. Berpakaian sopan saat berada di lingkungan desa. Jika ingin membeli hasil laut atau kerajinan, beli langsung dari warga agar manfaatnya kembali ke komunitas.

Waktu terbaik berkunjung adalah saat cuaca tenang, umumnya di luar musim angin kencang. Namun cuaca di perairan barat Sumatera cepat berubah, sehingga jadwal kapal bisa bergeser. Fleksibilitas adalah syarat utama. Siapkan rencana cadangan jika kapal tertunda sehari atau dua hari.

Pulau Bojo menawarkan sesuatu yang makin langka: keramahan yang tulus, makanan laut yang jujur, dan laut yang belum ramai. Bagi yang mencari ketenangan, tempat ini layak dipertimbangkan, dengan kesabaran sebagai modal utama.

Tonton Video

Pertanyaan Umum

Di mana lokasi Pulau Bojo?

Pulau Bojo berada di ujung selatan Kepulauan Batu, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara, dan masuk wilayah Desa Duru, Kecamatan Hibala. Pulau ini berbatasan dengan Selat Siberut di sebelah selatan.

Bagaimana cara menuju Pulau Bojo?

Akses utama lewat kapal dari pelabuhan di Nias Selatan menuju Kepulauan Batu, lalu dilanjutkan ke Pulau Bojo. Jadwal kapal terbatas dan sangat bergantung cuaca, jadi siapkan waktu cadangan.

Apakah ada hotel atau homestay di Pulau Bojo?

Belum ada hotel atau resor. Pilihan menginap adalah rumah warga di Desa Duru yang menerima tamu secara terbatas. Pemesanan biasanya lewat perantara di Nias Selatan atau langsung ke keluarga setempat.

Makanan apa yang tersedia bagi tamu?

Hidangan sehari-hari berbasis hasil laut: ikan bakar, ikan goreng, cumi, dan olahan bersantan. Menu mengikuti hasil tangkapan nelayan hari itu, bukan daftar menu tetap.